ADA BULE DI AULIA???
Mau tau apa aja yang dibicarakan Bule satu ini? Simak ya…
Tarik ulur antara orang tua – anak dan guru terutama di awal-awal tahun ajaran, ternyata gak cuma terjadi di Indonesia. Di Perancis, fenomena seperti ini ternyata juga kerap terjadi. Hal ini diungkapkan langsung oleh Mr. Olivier Rothan, seorang dosen dan guru di Santa Ana – Strausbrough – Prancis. Alhamdulillah, pada hari ini, 19 Agustus 2010 beliau berkesempatan hadir di sekolah kami yang mungil, Aulia Character Building School.
Dalam kesempatan yang diberi nama OBRAS DASI (Obrolan Santai dan Berisi) ini, ia mengungkapkan bahwa ada orang tua yang merasa bangga jika mereka ditangisi oleh anak-anaknya, karena itu menandakan bahwa mereka dibutuhkan oleh anak-anaknya. Memang hal itu tidak dinyatakan secara eksplisit, namun dari apa yang dilakukan memang tampak bahwa orang tualah yang sebenarnya ‘takut kehilangan’ cinta anaknya.
Lebih lanjut menurutnya, kesulitan guru dalam mendidik sebenarnya bukan terletak pada anak-anak tapi justru lebih pada memberikan pengertian bagi orang tuanya. Pernah suatu ketika, seorang muridnya menangis ketika ayahnya pulang seusai mengantar sekolah. Tapi karena Mr. Rothan membujuknya dan memberikan mainan yang sengaja ia siapkan di meja-meja ruang kelasnya, akhirnya si anakpun diam dan tenggelam dalam permainannya. Namun tidak berapa lama, si anak melihat keluar jendela dan menangis lagi. Ternyata sang ayah masih di luar sana dan spontan melambai-lambaikan tangannya ketika wajah mungil anaknya ‘nongol’ di jendela. Rupanya ia menunggu dan ingin memastikan apakah anaknya ‘baik-baik saja’.
Mungkin sepintas terlihat betapa sang ayah ‘care’ pada anaknya, tapi tindakannya itu justru mematikan kesempatan anak untuk menjadi pribadi yang mandiri. Di luar negeri yang nota bene orang-orangnya lebih mandiri saja seperti itu, apalagi di Indonesia ya? Pasti pengalaman ini sering dirasakan oleh para guru terutama yang mengajar di TK atau SD. Hal ini tentu saja menjadi bagian yang ‘menantang’ sekaligus ‘melelahkan’ bagi para guru. Melelahkan memang jika orang tua sulit diajak kerjasama demi kebaikan anaknya.
Pada prinsipnya, jika kita ingin yang terbaik buat anak-anak kita, sudah seharusnyalah kita mempersiapkan diri menerima kenyataan bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan diri kita tapi juga membutuhkan banyak hal di lingkungannya termasuk guru, teman dan orang lain agar ia bisa menjalani their own life di waktu yang akan datang.
Saya sendiri sering mengatakan, kalau kita tidak siap mendengar tangisan anak, maka kelak kita yang akan menangis melihat anak-anak kita yang tidak bisa berbuat banyak untuk dirinya sendiri.
Sudah siapkah Ayah Bunda?
KETERLIBATAN AYAH (FATHER INVOLVEMENT)
Dalam kesempatan OBRAS DASI (Obrolan Santai dan Berisi) di AULIA – ISLAMIC CHARACTER BUILDING SCHOOL, Mr. Rothan mengungkapkan bahwa seorang ayah mempunyai peran yang teramat penting dalam menentukan perkembangan seorang anak. Ia mengatakan banya kasus yang ia temukan di sekolahnya bahwa ternyata anak yang ‘bermasalah’ ternyata anak-anak yang ayahnya kurang atau tidak terlibat dalam pengasuhan.
Pandangannya sebagai orang Bule sebenarnya rada ‘mengejutkan’ juga. Secara umum yang kita tahu, orang Bule lebih moderat dan cuek pada kehidupan berkeluarga, namun ia mengatakan komitmen ia untuk menikah berarti ia juga harus mampu memberikan kasih sayang dan perhatian untuk istri dan anak-anaknya. “Kalau saya tidak mau buat itu, saya hidup sendiri saja dari dulu,”ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia dan istrinya yang asli orang Jogja sepakat bahwa istri di rumah mengasuh anak dan urusan rumah tangga paling tidak sampai anak-anak mereka bersekolah. Namun kenyataannya sampai putra kedua mereka sekolah di play group yang jam sekolahnya 8 – 4 sore, mereka tetap bertahan dalam kondisi sang Ibu tinggal di rumah karena pada saat istirahat siang (sekitar 2 jam), Remy Yusuf Isaac Rothan pulang dan tidur siang di rumah mereka, sehingga bonding dengan ibunya tetap terjaga (keren banget gak sehhh?). Mr. Rothan juga sangat menikmati profesinya sebagai guru karena ia tetap bisa mengawasi kedua putranya yang bersekolah di tempat ia bekerja.
Seorang Ibu (orang tua siswa kel A) bertanya tentang cara mengajak suami untuk lebih care pada anak. “Kalau anak nakal, istri yang disalahin. Kalau rumah berantakan, istri yang disalahin”, ujarnya. Mr. Rothan yang asli Perancis itu mengatakan bahwa menyalahkan orang lain adalah suatu hal yang sangat mudah dilakukan, apalagi jika kita dalam kondisi capek. Namun yang harus diingat adalah komitmen itu tadi. Menurutnya, anak adalah hasil dari kerjasama suami dan istri, maka sudah seharusnya menjadi tanggung jawab ayah ibunya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka termasuk dalam hal pengasuhan. Ibu lebih sebagai orang yang sabar dan memberikan curahan kasih sayang, sedangkan ayah sebagai sosok penegak disiplin namun tetap penuh kasih sayang.
Keterlibatan ayah dapat dimulai dari hal yang sederhana. “Daripada menunggu istri mengangkat bekas piring atau gelas bekas kita makan atau minum, lebih baik bawa sendiri ke dapur. Abis kadang-kadang bapak-bapak lupa jalan ke dapur, bahkan sampai mungkin ada yang bertanya “memang ada di dapur di rumah ini ya”, selorohnya mengundang tawa kami. Dari hal-hal kecil itulah, ayah akan terbiasa untuk melakukan kegiatan di rumah dan menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya.
Ia bahkan mengatakan bahwa ayah itu harus terbiasa mencuci piring atau memasak. Sesekali istri keluar rumah sendiri dan anak-anak di rumah bersama ayah juga termasuk sarannya yang penting untuk menciptakan kedekatan antara ayah-anak. Asalkan semua dalam kondisi ready, rumah sudah rapi, bahan makanan atau makanan matang sudah tersedia, anak-anak dalam kondisi OK, gak ada salahnya memberikan kesempatan pada ibu untuk menikmati waktunya sendiri. (Mau gak Buuuu??? Bangetttt, kata ibu-ibu………….he.he…asyik kali ye…)
Ngomong-ngomong soal father involvement ini, jadi inget cerita dosen pembimbing saya, Bu Melly Latifah. “Mamiku itu,” katanya saat bercerita pada saya, ”gak pernah lho mandiin bayi-bayinya. Kami semua, yang mandiin itu Papiku. Nanti kalau kita udah pada bersih dan wangi, Papiku baru ngasih ke Mami supaya Mami bisa menyusui.” (Hebaattt banget kan??!!).
Apa yang Mr. Olivier Rothan sampaikan tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan ini memang kenyataannya sesuai dengan hasil-hasil penelitian tentang father involvement (keterlibatan ayah). Menurut beberapa hasil penelitian, anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan akan memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik (Nugent, 1991), menjadi anak yang better problem solvers (Easterbrooks & Goldberg, 1984) dan memiliki IQ yang lebih tinggi (Yogman, 1995) serta prestasi akademik yang lebih baik (Goldstein, 1982).
Belum lagi dari segi perkembangan emosional. Anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan terbukti dari hasil penelitian akan memiliki resilient (daya tahan) yang lebih baik dalam menghadapi situasi yang stressful (Parke & Swain, 1975), lebih memiliki rasa ingin tahu terhadap lingkungan (Biller, 1993), lebih memiliki keberanian, mudah mengatur emosi dan lebih mudah beradaptasi (Biller, 1993).
Mau data lagi? Dari perkembangan sosial, anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan akan memiliki hubungan yang lebih positif dengan teman-temannya, menunjukkan emosi negatif yang lebih sedikit (Grossman, 1992) dan mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang lebih toleran dan pengertian (McClelland, 1978). Long term effects-nya, anak-anak ini akan menjadi orang yang sukses dan dapat bersosialisasi dengan baik serta memiliki kehidupan perkawinan yang baik pula (Rueter & Biller, 1973).
Kayaknya perlu sebuah buku untuk membahas pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak karena memang hasil-hasil penelitian juga mengindikasikan demikian. Keterlibatan ayah memang bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pencapaian perkembangan seorang anak, namun apa masih mau berkelit jika kita kembalikan pada hakekat kebenaran bahwa anak adalah amanah, dan setiap amanah akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat.
Ayo para ayah….tunggu apa lagi????
GAK CUKUP SEKEDAR BACA TULIS SAJA
Hal ini juga diungkapkan oleh Mr. Rothan saat acara OBRAS DASI di TK Islam AULIA, 19 Agustus 2010 silam. Seorang anak harus mengerti apa yang ia baca, sehingga ia dapat membaca apa yang ada di lingkungannya.
Yang harus lebih diperhatikan oleh para orang tua dan guru, ungkapnya, adalah menanamkan sikap rasa ingin tau, sehingga anak memahami mengapa ia harus belajar, mengapa anak harus bisa membaca. Yang jadi permasalahan, banyak orang tua yang merasa bangga jika anaknya sudah mahir membaca setiap tulisan yang ada di sekitarnya. Anak tidak didorong untuk memahami apa yang dibacanya dan mengapa ia harus terus membaca dan belajar dari lingkungan sekitarnya.
Membaca adalah hal yang sangat penting dan termasuk kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang anak. Dengan membaca anak menjadi tahu banyak hal dan akan mendorong minatnya untuk terus belajar. Tetapi tahapan untuk menuju kesana menjadi hal yang lebih penting. Biasakan anak sedini mungkin untuk membuka buku-buku dengan berbagai gambar dan tulisan, orang tua atau guru sering menceritakan dongeng atau cerita-certia yang menarik, ajak anak untuk mengungkapkan pendapatnya, ajak anak bernyanyi dan kegiatan lainnya yang mendorong anak untuk membangun pengetahuannya sendiri. Dengan begitu anak tidak sekedar tahu huruf b + u + k + u menjadi buku, tetapi lebih dari itu, ia tahu buku itu seperti apa, apa yang ada di dalamnya, apa kegunaannya dan lain sebagainya. Akhirnya pengetahuannya akan berkembang lebih dari sekedar rangkaian huruf demi huruf belaka.
Bagaimana dengan anak yang tidak punya motivasi buat belajar atau membaca? Menurut beliau, setiap anak pasti punya minat pada sesuatu. Dari minatnya itulah motivasi bisa dibangkitkan. Misalnya, seorang anak berminat besar dalam hal mobil. Belikan saja buku-buku tentang mobil yang pasti akan menarik perhatiannya. Dari buku itu, pasti ia akan bertanya nama mobil itu, berapa harganya, dimana ia dapat membelinya. Dari sanalah kita memotivasinya dengan misalnya mengatakan, “Wah, kalau mau tahu jawabannya kita harus bisa baca dulu ya…”, sambil anak terus digiring ke arah pembelajaran yang lebih terarah. Atau menurut saya, bisa juga, kita memasang huruf-huruf di atas mobil-mobilannya atau membuatkan garasi-garasi kecil dari bekas kotak obat yang ada huruf atau angka-angka, sehingga tanpa sadar, anak-anak sedang berjalan menuju sebuah proses yang lebih bermakna.
Yang lebih penting lagi, orang tua tidak lantas merasa bangga jika anak-anaknya sudah dapat membaca sejak usia dini. Sekali lagi, ,membaca memang penting, namun yang tidak kalah pentingnya adalah “membaca lingkungan” dalam arti anak memiliki sikap peka terhadap lingkungannya. Ia harus tumbuh menjadi anak yang peduli pada sekitarnya, sayang pada temannya, berbicara lembut pada orang tua, guru dan teman-temanya, mau berbagi, mau bersikap sportif, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Disinilah pentingnya pendidikan karakter, dimana anak diajak untuk memahami bahwa ia adalah bagian dari alam ini, sehingga sekecil apapun kebaikan atau keburukan yang ia lakukan pasti akan berdampak bagi lingkungannya dan juga bagi dirinya sendiri. Kalau seseorang sudah memiliki kesadaran bahwa semua yang dilakukan pasti akan berdampak bagi dirinya, mudah-mudahan yang ia lakukan hanyalah hal terbaik saja, karena setiap orang pasti ingin mendapat dampak yang baik juga kan?
KONSULTASI DENGAN PSIKOLOG
Pada hari Jum’at 22 Oktober yang lalu, Kami kedatangan Psikolog dari Grahita Indonesia, Bp. Andreas yang berkesempatan memberikan penjelasan hasil Psikotest siswa-siswi TK Islam AULIA sekaligus konsultasi Psikologi. Menurut beliau, pada umumnya ada 3 permasalahan utama yang berhubungan dengan anak. Pertama, anak ‘nakal’ dalam arti anak yang suka melawan, memberontak, mengganggu teman, dan semacamnya. Kedua, bad habit (kebiasaan buruk) seperti mengupil (maaf) di sembarang tempat, memakan sesuatu yang bukan makanan (rambut, tanah, dll). Ketiga, maladjustment (penyimpangan perilaku) seperti kleptomania.
Hal tersebut di atas terjadi karena anak mengalami psycho pain (penderitaan batin) dan karenanya anak membutuhkan pain release berupa kompensasi yang dapat terlihat (outer) ataupun yang tidak terlihat (inner). Psycho pain itu sendiri dipengaruhi oleh lingkungan dalam hal ini termasuk pola asuh orang tua.
Emotional record merupakan data yang menunjukkan tingkat kebutuhan yang ada pada diri individu yang bersangkutan dalam setiap item yang terkait. Nilainya berada pada rentang 0 – 100 dengan asumsi bahwa nilai tinggi menunjukkan kondisi yang berlebihan dan sulit dibendung dan nilai rendah menunjukkan kondisi yang kurang memadai (sangat minim). Kondisi ideal berkisar di antara angka 50. Item yang dimaksud adalah sbb:
- Achievement : berkaitan dengan kebutuhan untuk berprestasi. Jika nilainya rendah anak menjadi malas dan minimalis, sedangkan jika nilainya berlebihan anak menjadi obsesif, egois dan tidak mau kalah
- Defence : pertahanan diri yang berkaitan dengan kebutuhan untuk menutup diri dari pengaruh individu lain. Jika nilainya kurang, biasanya anak akan gampang menyerah dan mudah terbawa arus. Jika nilainya tinggi anak akan depresif dan antisosial (sulit bersosialisasi). Sebaiknya ajak anak untuk banyak berteman, belajar antri, belajar berbagi dan juga mengeluarkan pendapatnya sendiri.
- Otonomi : berkaitan dengan kebutuhan mengatur dirinya sendiri tanpa pengaruh orang lain. Jika nilainya kurang anak akan menjadi kurang inisiatif dan tidak kreatif tetapi jika berlebihan, anak akan menjadi keras kepala dan sulit diatur.
- Exhibition : berkaitan dengan kebutuhan untuk tampil dan mendapatkan penghargaan dari orang lain. Jika nilainya kurang anak akan takut untuk tampil dan kurang percaya diri, sedangkan jika nilainya tinggi, anak akan suka pamer dan over acting. Penanganannya adalah dengan menghargai sekecil apapun usaha anak. Nilai ideal ditunjukkan dengan anak yang percaya diri dan berani tampil beda.
- Affiliation (kerjasama) : berkaitan dengan kebutuhan anak untuk bekerjasama dalam kelompok. Jika nilainya kurang biasanya ditunjukkan dengan anak yang suka menyendiri dan introvert, sedangkan nilai yang tinggi ditunjukkan sikap gampang terpengaruh dan melupakan tanggung jawab. Penanganannya adalah dengan melibatkan anak dalam kegiatan positif, misalnya memasak atau membersihkan rumah/kendaraan di rumah.
- Succorance (ketergantungan) : berkaitan dengan kebutuhan untuk mendapatkan rasa aman. Anak yang nilai ketergantungannya rendah ditunjukkan dengan anak yang cemas dan gelisah. Anak yang nilai ketegantungannya tinggi ditunjukkan dengan anak yang tidak mandiri dan sangat tergantung dengan orang lain. Nilai yang ideal akan ditunjukkan dengan perfoma anak yang patuh, fleksibel dan mudah diarahkan.
- Intumedence (kepedulian) : berkaitan dengan kebutuhan untuk memiliki rasa pedui. Anak yang cuek dan apatis atau memegang prinsip EGP biasanya memiliki nilai kepedulian yang rendah. Sebaliknya anak yang mudah tersinggung, curiga dan suka mencampuri urusan orang lain biasanya nilai kepeduliannya tinggi. Anak yang peduli, simpati dan empati biasanya memiliki nilai yang ideal (berkisar antara 50).
- Dominasi : berkaitan dengan kebutuhan anak untuk menguasai individu lain. Anak yang memiliki jiwa pemimpin biasanya memiliki nilai dominasi yang ideal. Yang nilainya tinggi ditunjukkan oleh orang yang otoriter dan diktator, sedangkan yang rendah biasanya tidak berwibawa.
- Kebimbangan (Nurturance) : berkaitan dengan kebutuhan untuk selalu membuat pertimbangan atas tindakannya. Anak yang ceroboh dan asal bicara biasanya nilainya rendah sedangkan anak yang suka berbelit-belit dan mungkin pelit, biasanya nilai nurturancenya tinggi. Hal ini biasanya disebabkan karena pola asuh yang ambivalen (penanaman nilai yang berbeda antara ayah dan ibunya) dan ambigious (satu perintah/kata tapi mengandung banyak makna sehingga anak bingung). Nilai yang ideal ditunjukkan dengan sikap bijaksana.
- Keajegan (Consitence) : berkaitan dengan kebutuhan untuk menghindari konflik dengan orang lain. Anak yang plin plan biasanya nilainya rendah sedangkan anak yang setia buta (taklid) biasanya nilainya tinggi. Anak yang memiliki nilai ideal biasanya ditunjukkan dengan sikap konsisten dan setia.
- Heteroseksual : berkaitan dengan kebutuhan untuk mendpatkan kasih sayang dari lawan jenis. Anak yang nilainya terlalu tinggi akan berpotensi menjadi hiperseks atau playboy, sedangkan yang nialinya rendah dapat berpotensi menjadi homo atau lesbian.
- Agresifitas (agression) : berkaitan dengan hal-hal yang melawan aturan. Anak yang kolot dan monoton biasanya memiliki nilai agresifitas yang rendah, sedangkan anak yang agresor dan destruktif bisanya memiliki nilai agresifitas yang tinggi. Seorang reformis biasanya memiliki nilai agresifitas yang ideal.
Apapun tipe kepribadian menurut hasil test, hendaknya menjadi sebuah informasi yang membuat kita semakin cerdas untuk menghadapi buah hati kita. Gak mudah lho jadi orang tua yang baik…dan pasti kita mau dong anak-anak kita berkualitas…. Oleh karena itu, kita harus terus mencari ilmu agar dapat melakukan yang terbaik untuk mereka. Bagi saya, jadi orang tua itu adalah sebuah never ending learning process… sebuah proses belajar yang tidak pernah berakhir….. Betul gak? Selamat menjadi Ayah Bunda yang hebat ya!!!